Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar
Lanjutkan Belanja
Kategori

Follow Us
  • Youtube_Pok Ame Ame
  • FB_Pok Ame Ame
  • IG_Pok Ame Ame

Saat si Kecil TANTRUM..

Sofia, yang kini menginjak usia 1 tahun 8 bulan tiba-tiba menangis dan berteriak di tengah-tengah mall. Ia menangis dengan keras, berguling-guling di lantai, menggapai semua benda yang bisa dia gapai kemudian menjatuhkannya. Sang Mama sudah berusaha menenangkannya, dari mulai bicara baik-baik sampai mulai meninggikan suaranya untuk meminta ia berhenti menangis. Tapi Sofia seolah tak peduli, dia tetap menangis dan bahkan semakin keras diringi teriakan. Belakangan, barulah mama Sofia tahu, itulah yang disebut tantrum.

Apa sih tantrum?

Menurut Encyclopedia of Children’s Health, perilaku tantrum merupakan ekspresi dari rasa frustrasi anak karena ketidakmampuannya untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan. Keinginan tersebut bisa berupa benda seperti mainan dan makanan, ataupun dikarenakan perasaan gagal menyelesaikan sebuat aktivitas. Ekspresi kemarahan itu muncul karena sang anak belum bisa menyampaikan apa yang ia rasakan kepada orang tuanya secara baik dan benar.

Apa tantrum berbahaya?

Bayangkan jika Anda tiba-tiba diturunkan dari pesawat di negara Tibet. Anda mencoba berkomunikasi tapi tidak ada yang bisa mengerti Bahasa Inggris, apalagi Indonesia. Akhirnya Anda mencoba menggunakan Bahasa tubuh. Anda ingin tahu caranya pulang, bertanya kenapa Anda bisa ada disini. Anda juga lapar dan lelah. Anda mau makan dan beristirahat, tapi tidak ada yang mengerti apa yang Anda mau. Semuanya bingung melihat tingkah laku Anda. Mereka menyodorkan berbagai benda yang justru membuat Anda semakin tidak nyaman. Lama kelamaan setelah mencoba dengan keras Anda menjadi frustasi. Itulah yang kira-kira juga dialami si kecil.

Saat berumur 1-2 tahun, mereka mulai bisa mengeksplorasi banyak hal. Mereka juga mulai memiliki keinginan. Ada keinginan yang bisa dicapai ada pula yang tidak bisa terwujud. Saat mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka belum mampu mengungkapkan rasa frustasinya dengan baik. Sebetulnya, tantrum adalah hal yang wajar. Fase tantrum akan hilang seiring bertambahnya usia. Kosakata mereka semakin lama semakin berkembang. Kemampuan anak untuk  berkomunikasi secara verbal meningkat. Ia mulai belajar untuk bisa menyampaikan keinginannya atau menceritakan apa yang ia rasakan dalam bentuk kata-kata.

Menjadi bahaya saat kita justru membiarkan perilaku tantrum ini bertahan sampai ia beranjak balita bahkan hingga dia remaja. Saat kita dengan cepat menyerah menuruti semua keinginannya saat si kecil mulai tantrum, ia belajar bahwa tantrum adalah sarana untuk mencapai tujuan. Bukannya belajar menyampaikan keinginan secara benar, dia lebih suka berteriak, menangis, memukul dan mengamuk saat keinginannya tidak terpenuhi.

Bagaimana Mengatasi Tantrum

Cara terbaik mengatasi tantrum adalah menunggu dengan tenang. Saat dia mulai mengamuk, pastikan keamanan lingkungan sekitar. Saat tantrum biasanya anak bisa menarik apapun yang ada disekitarnya, menendang, bahkan membenturkan kepalanya sendiri. Karena itu, hal pertama yang harus Anda pastikan adalah, dia tidak terluka akibat perilakunya.

Misalnya, bawa dia ketempat tidur yang luas dan kelilingi dia dengan bantal. Biarkan dia mengamuk disana. Setelah si kecil lelah dan tenaganya habis, baru Anda bisa mulai berbicara dengannya. Biasanya dia akan lebih mudah tenang setelah kita peluk. Tapi, baiknya pelukan itu baru diberikan saat dia mulai tenang. Kalau saat mengamuk kita memaksakan pelukan, yang ada dia akan makin meronta.

Jika Anda berada ditempat umum, seperti mall atau restoran, baiknya Anda mengajak dia ke tempat yang lebih sepi. Bawalah dia keluar dan masuk ke dalam mobil. Pandangan orang di sekitar, pasti membuat Anda kesulitan untuk tetap tenang dan berfikir jernih. Lebih baik, segera hentikan apapun kegiatan Anda disana dan segera ajak dia keluar. Bisa jadi dia juga akan semakin mengamuk, tapi minimal Anda tidak harus menghadapi tekanan sosial dari orang-orang sekitar Anda.

Asah kemampuan komunikasinya

Saat anak sudah bisa mengungkapkan keinginannya, maka dia tidak perlu lagi menangis dan berteriak-teriak. Dia cukup meminta dengan baik. Kalaupun yang dia inginkan ternyata tidak bisa diwujudkan saat itu, maka dia sudah mulai bisa kita ajak bicara.

Jelaskan padanya kenapa dia tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau. Kalalu perlu, terangkan juga apa yang bisa dia ubah atau dia perbaiki untuk membuat dia mendapatkan apa yang ia mau di lain kesempatan. Ajarkan dia untuk sabar mendengarkan dan mencerna kata demi kata yang Anda lontarkan kepadanya. Karena itu, melatih kemampuan untuk fokus mendengar, mencerna, dan berusaha memahami, sama pentingnya dengan melatih kemampuan berbicara itu sendiri.

Ingat, komunikasi bukan cuma soal berbicara, tapi juga mendengar. Karena itu, rangsang dia untuk terus mengasah kemampuan komunikasi. Salah satu cara terbaik untuk belajar berkomunikasi adalah bermain peran. Jika dia sudah mampu mendengarkan, memahami, dan membalas perkataan kita dengan jawaban maka kita sudah bisa mengajak dia berdiskusi. Lewat diskusi kita bisa mencari jalan tengah antara keinginan sang anak, situasi yang ada serta peraturan yang berlaku di keluarga.

Karena terkadang, seperti saat Anda diturunkan secara mendadak di Negara Tibet, dia bukan marah karena dia anak bandel. Dia hanya tidak mengerti dan tidak berhasil membuat Anda mengerti. Jadi, yang harus Anda lakukan adalah membuat dia mengerti apa yang Anda katakan dan bersabar jika dia tidak bergasil membuat Anda mengerti yang ia maksud.

 

Ditulis oleh Asih Nurfitri S.Psi

Penyedia jasa sewa mainan, stroller, peralatan bayi, dan playground untuk acara wedding, pesta ulang tahun, seminar, gathering dan lain-lain. Melayani wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi


 

Artikel Terkait

    Diposkan: 2016-05-07 13:50:57 ; Dibaca: 787 kali
  • Temukan cara melatih konsentrasi anak berdasarkan usianya

 

Komentar
Tidak ada komentar!
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Kirim
.