Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar
Lanjutkan Belanja
Kategori

Follow Us
  • Youtube_Pok Ame Ame
  • FB_Pok Ame Ame
  • IG_Pok Ame Ame

Saya akan Membiasakan Anak Saya Pada Gadget, Setelah..

Dia bisa beradaptasi perasaan bosan!

Si kecil senang sekali melihat video klip nursery rhymes. Dia juga senang menirukan suara-suara binatang seperti kambing, bebek, dan sapi. Kita menganggap dia suka binatang, tapi kenapa dia justru cepat sekali bosan saat diajak ke nursery farm field?

"Ma kenapa kambingnya diam aja, gak nyanyi dan nari?" Kalimat itu mungkin tidak akan keluar dari mulut anak balita anda, tapi mungkin kalimat itu bisa menjelaskan rasa bosannya. Pemandangan yang ia lihat jauh berbeda dengan apa yang biasa dilihatnya di layar iPad. Kambing di iPad bisa bergerak dengan lincah, menari dan menyanyikan lagu 'baa-baa black sheep'. Tarian, nyanyian dan keceriaan itulah yang membuat dia betah menatap layar berjam-jam.

Ya, saat anak sudah terbiasa melihat kambing di depannya menari, maka dia tidak lagi bisa menikmati gerak gerik kambing yang natural. Baginya, kambing yang menarik adalah kambing yang lincah menari. Bukan kambing yang kerjanya hanya makan, pipis, pup dan sesekali mengembik.

Itu pula yang akan terjadi saat dia masuk sekolah. Dia terlanjur terbiasa dengan keceriaan kakak-kakak di Hi-5 dan tidak terbiasa melihat guru yang berbicara di depan kelas tanpa menyanyi ataupun menari. Dia menjadi ‘intolerir’ pada pemandangan statis dan monoton.

Biarkan anak kita mampu beradaptasi dengan kebosanan. Biarkan dia bisa secara kreatif memberikan hiburan pada otaknya sendiri. Membiasakan paparan gadget secara maraton membuat anak tidak lagi memiliki toleransi pada suasana sunyi, slow motion, dan pasif. Mereka terbiasa 'disuapi' pemandangan yang aktif bergerak. Mereka tidak lagi kreatif menciptakan gerakan baik yang nyata secara fisik maupun di dalam pikiran mereka sendiri.

 

Dia Mampu Menciptakan Percakapan

Selain jadi tidak mampu kreatif mencari kebahagiaan ditengah rasa bosan. Terbiasa dengan keberadaan gadget juga membuat anak tidak terbiasa memulai percakapan, dan hal ini sebetulnya sudah di mulai pada generasi kita, orang tua mereka.

Sekarang, berapa banyak orang yang menunggu antrian sambil mengutak atik handphone mereka? Generasi kita seperti kehilangan kemampuan untuk memulai pembicaraan dan bersosialisasi secara santai di ruang publik. Padahal handphone baru mulai booming 17 tahun yang lalu, dan smartphone sekitar 7-8 tahun lalu. Artinya kita baru mengenal smartphone di bangku sekolah atau kuliah. Bagaimana nasib anak kita yang sudah mengenal gadget di usia balita?

Beberapa waktu lalu saya pergi ke sebuah bank untuk menemui Customer Service karena kartu ATM saya yang tertelan. Saat menunggu customer service tersebut mengecek data saya di sistem, dan sibuk dengan layar komputernya, saya secara otomatis mengeluarkan smartphone saya. Di tengah keasyikan menelusuri social media, saya mendengar seorang bapak sedang berbicara dengan customer service yang melayaninya di meja sebelah. Dia menceritakan bahwa anaknya sedang skripsi dan dia berharap anaknya akan lulus tahun ini. Seketika itu saya menyadari sesuatu, saya telah melewatkan waktu untuk berbincang santai dengan Customer Service di hadapan saya.

Adanya TV, Internet dan smartphone dengan segudang aplikasi memang membuat kita mudah mengisi kesunyian. Bahkan mungkin ada beberapa diantara kita yang secara otomatis menghidupkan TV saat sampai rumah, tanpa tahu film apa yang mau kita tonton. Atau membuka handphone tanpa tahu apa yang mau dilakukan. Kita jadi terbiasa mudah mengisi rasa sepi dan sunyi tanpa harus sibuk menciptakan topik pembicaraan.

 

Dia Mengenal Arti Kata Menunggu dan Bersabar

Dulu, saat saya mau tertawa lepas, artinya saya harus main keluar rumah, memanggil teman saya, dan mengajak mereka ke taman untuk bermain. Kami harus menentukan mau bermain apa. Atau, saat ingin bermain sendiri setidaknya saya harus berjalan menuju taman, dan bertanya pada orang tua saya bolehkan saya bermain. Keseruan yang saya inginkan membutuhkan proses untuk dilalui. Sekarang, keseruan bisa didapat hanya dengan menekan sebuah tombol aplikasi.

Jadi, jangan heran kalau anak-anak yang terbiasa dengan gadget jadi mudah marah, cenderung agresif, dan tidak sabar. Bisa jadi mereka bukan tidak sabar, melainkan tidak tahu artinya sabar. Mereka terbiasa dilayani dengan cepat dan instan. Mereka tidak terbiasa menunggu. Seperti yang telah dipaparkan diatas, biarkan dia bisa beradaptasi dengan rasa bosan. Jika mereka mampu beradaptasi dengan kebosanan, mereka akan mengasah sendiri ke‘kreatifitas’an dalam menunggu.

 

Mereka merasakan dunia nyata

Bermain game di handphone memiliki aturan sederhana, jika kita bisa menyelesaikan tugas maka kita akan mendapat hadiah. Hadiah bisa berupa tambahan poin, naik level ataupun sekedar tulisan "Congratulation, great job!". Adakah game yang lupa memberi apresiasi saat anda menang? Adakah game yang menyerobot antrian? Adakah game yang tidak membiarkan anda naik level karena merasa sentimen pada Anda? Yang jelas, di dunia nyata, semua itu, ADA.

Saat anak hanya mengenal dunia game mereka tidak mengerti hidup di dunia nyata. Emosi mereka tidak terlatih untuk bisa menerima "unfairness" perilaku yang tidak adil. Kemampuan mereka untuk bertahan dan tidak menyerah saat menghadapi ketidakpastian menjadi rendah.

Game memang telah diprogram untuk berlaku adil. Mereka dirancang untuk memenangkan pihak yang paling kuat, paling jago, dan yang memang sudah seharusnya menang. Kehidupan nyata jauh berbeda.

Anak anda harus dikenalkan dengan perilaku agresif dari anak lain yang menyerobot antrian. Mereka harus belajar bahwa kadang dunia tidak berlaku adil. Bukan untuk memakluminya dan ikut berlaku seenaknya. Tapi untuk bisa kuat dan siap secara mental. Sehingga saat nanti dia menghadapi hal itu, dia tidak menyerah atau tidak melulu mengeluh dan merengek. Menyalahkan pihak lain atas kegagalan mereka. 

 

Muncul Kesadaran Bahwa Gadget adalah Pelengkap

Kecanduan adalah salah satu alasan yang akhirnya dikeluhkan orang tua saat mereka sudah terlanjur membiasakan gadget menjadi teman anak mereka. Anak mereka tidak bisa tidur jika belum bermain gadget, atau anak mereka bisa teriak-teriak saat tahu gadget mereka habis batre atau tertinggal di rumah. Mereka seperti lupa bahwa mereka akan baik-baik saja tanpa gadget.

Karena itu, banyak pakar yang menyarankan isolasi gadget selama 3x24 jam bagi anak-anak yang terlanjur kecanduan gadget. Mereka harus memberikan penyadaran pada anak mereka bahwa “they’re gonna be just fine” tanpa gadget mereka.

Tapi ingat sebelumnya, mungkin kita sebagai orang tua juga harus memastikan terlebih dahulu apakah kita sendiri sudah memiliki kesadaran akan hal-hal di atas? Jangan-jangan justru diri kita sendiri sudah menjadikan gadget sebagai barang ‘hidup atau mati’ bukan hanya pelengkap. Jadi mari benahi diri kita sendiri dulu, kemudian ingatkan diri kita sendiri bahwa gadget bukanlah baby sitter yang tepat bagi anak kita.

Jadi, saya harus realistis meniadakan gadget sama sekali di zaman sekarang ini rasanya susah, kalau tidak mau dibilang mustahil. Saat sekolah saya ingin anak saya sudah bisa mencari informasi lewat google atau bisa memanfaatkan aplikasi untuk mereka mengenal dunia. Tapi saya percaya bahwa itu akan bisa mereka pelajari secara cepat, otak anak itu seperti sponge, dan teknologi semakin anyar semakin easy to use. Sekarang, saatnya mereka belajar tanpa gadget, atau setidaknya boleh gunakan gadget sebagai pelengkap, bukan sesuatu yang utama. 

 

 

Ditulis oleh Asih Nurfitri S.Psi

Penyedia jasa sewa mainan, stroller, peralatan bayi, dan playground untuk acara wedding, pesta ulang tahun, seminar, gathering dan lain-lain. Melayani wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi


 

Artikel Terkait

    Diposkan: 2016-05-07 13:50:57 ; Dibaca: 780 kali
  • Temukan cara melatih konsentrasi anak berdasarkan usianya

 

Komentar
Tidak ada komentar!
Tulis Komentar
Nama
Email
Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Kirim
.